[SMALL THOUGHT] Why I Refuse to Cry in a Lot of Occassion

Well, why not?

Ini sebenarnya hanya selenting pikiran yang mampir saat sedang nganggur (baca: ada kerjaan tapi mager). “Kenapa cewek (seperti halnya saya) hobi banget menangis?”

Kalau ditulis demikian, sudah pasti ada cewek-cewek lain di luar sana yang protes: “saya ngga hobi nangis, kok!” Saya juga setuju. Saya juga ngga hobi nangis. Meski mungkin orang berpandangan lain, bagi saya menangis itu sebenarnya agak sia-sia.

Walau begitu, bukan berarti saya ngga pernah menangis. Lebih tepatnya, saya menolak untuk menangis. Bagaimanapun caranya, saya akan berupaya untuk tidak menangis terutama karena masalah hidup, ya (you know, misal gara-gara dimarahin Mamah atau gara-gara dijahatin temen, menurut saya kalau bisa ngga nangis, ya, jangan sampe nangislah).

Agak sia-sia karena ada, sih, yang memang jadi lebih lega dan lebih bisa berpikir jernih setelah menangis. Jadi, menangis ga sepenuhnya sia-sia, kan? Sayangnya, buat saya masih terbilang sia-sia juga.

crying

 

Pertama, menangis ngga menyelesaikan masalah. Oke, habis nangis kamu jadi bisa berpikir jernih. FINETapi berapa lama yang kamu habiskan dengan “menangis untuk berpikir jernih” itu tadi? Mendingan buat mikir gimana caranya itu masalah bisa selesai dengan damai tanpa perlu menguras air mata.

Kedua, menangis itu CAPEK. Air mata keluar ngga hanya dari mata aja, tetapi juga meler keluar dari hidung, bahu-membahu dengan ingus kental yang bikin kamu semakin tersengal-sengal. Mau napas jadinya susah, malah megap-megap jelek banget. Dada juga jadi sesak, tubuh berguncang. Kesel banget sampai kepala berdenyut-denyut mau pecah. Seengga ada, tuh, nikmat-nikmatnya menurut saya.

Ketiga, menangis itu menjatuhkan imej kita sebagai cewek kuat. Dan ngga semua cowok tahu bagaimana caranya menenangkan cewek yang menangis. Ngga usah jauh-jauh, temen cewekmu sendiri mungkin juga bakal bingung kalau kamu menangis. Yang ada kamu malah jadinya nyusahin orang lain, kan? Ha.

Oke, mungkin sebagian pikiran yang mampir ini kedengeran sangat reklusif dan menggigit perasaan sensitif orang yang baca. Tapi ini murni cuma pendapat saya tentang menangis. Terutama nangisin cowok, ya… Astaga. Amit-amitlah, pokoknya.

Lalu gimana jika orang tersayang kita meninggal, misalnya? Masa ngga boleh nangis juga. Well, buat saya… mereka meninggal bukan untuk ditangisin, tapi diikhlasin. Ngga baik juga, kan, nangis tersedu-sedan kenceng-kenceng saat kematian? Boleh nangis secara pribadi, di ruang yang tertutup, atau waktu beribadah. Semua orang boleh-boleh saja nangis, cuma ga usah berlebihan dan dipamer-pamerkan bahwa kamu orang paling sengsara di dunia. Plis, deh, gaesssss… -_- (Dan sekali lagi ini semua prinsip saya sendiri, saya ngga memberimu advis untuk melakukan hal yang sama.)

Wistful thinking, wistful thinking. Sayangnya, saya ga bisa menolak untuk menangis kalau lagi baca novel, baca manga, nonton drama, atau nonton film. Walau sudah berupaya untuk tidak menangis, jujur aja saya mudah tersentuh sama pengalaman yang fiksional (anehnya, saya bebal banget sama pengalaman-pengalaman menyakitkan yang benar-benar ada di sekitar saya).

Tak terhitung banyaknya saya menangis sesenggukan gara-gara sepotong kalimat dalam film atau novel. Saya ingat banget ketika dulu nonton sebuah film lawas “Pay It Forward”, saya nangis sampai sesenggukan, sampe handuk basah kuyup, bantal basah kuyup. Cuma gara-gara satu film, itu aja cuma bagian akhir-akhirnya. Giliran kakek saya meninggal, saya dirundung sedih yang jauh lebih dalam tapi ga nangis sama sekali. Pas mau tidur sempat setetes, dua tetes. Tapi, ya, cuma gitu aja. Ini aneh tapi juga sering terjadi di kehidupan saya.

Mungkin ini terjadi karena saya sudah sulit percaya lagi, ya, sama sesama manusia. Hahaha. Kadang yang keluar di media atau yang di depan mata sukanya sekadar imej. Pas tahunya di belakang, ya, ternyata tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan. Alhasil, saya jadi semacam “bebal” dengan berbagai berita dan cerita yang saya terima dari orang lain (dan tentu saja media).

Karena terbiasa bebal itu tadi maka saya (yang sebenernya sangat sensitif) jadi ngga baperan (seperti, you-know-him, yang dikit-dikit baper). Namun ketika saya membaca sebuah novel, saya masuk dan meletakkan posisi saya di dalam sepatu tokoh utama. Ya, secara cobaan di dunia fiksi lebih besar dan ga masuk akal ketimbang di dunia (imagine that you are Percy Jackson, which has the worst luck of the world, like srsly) makanya saya kalau nangis atau baper gara-gara cerita suka lebih kenceng. Lagian karakter di cerita fiksi itu in someway relatable dan juga in someway is truer than real people.

So. That’s it for today exceptional rants. Baru selesai baca dari atas sampai bawah. Man, I think something is very wrong with my brain. -_-

Advertisements

2 thoughts on “[SMALL THOUGHT] Why I Refuse to Cry in a Lot of Occassion

  1. Ada saat-saat penting yang biasanya orang sewajarnya menangis, saat itu saya tidak bisa menangis dan mungkin menolak untuk menangis, entah apapun itu. Tapi kadang saat absurd dan sepele bisa banget menangis, kebanyakan karena frustrasi sendiri sih ahahahahah… tapi kalau liat drama, baca komik atau novel itu sih siapin tisu siap berurai air mata :))

Would you share your mind about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s